dua orang berjalan pulang

 

mereka berdua berjalan pulang.
ke desa. jauh di utara. di tepi telaga tempat mereka berdua dan kawan-kawan lain dulu bekerja sambil mendengar dan melihat bagaimana sang guru mengajar dengan kisah-kisah yang lucu dan sederhana.

kisah-kisah kiasan yang diambil dari khasanah sehari-hari mereka, di tangan sang guru mereka tadi jadi memikat, menohok, membuka mata mereka yang mendengarnya, bahwa situasi mereka itu sebenarnya sedang tidak beres. butuh penyelamatan.

caranya ngomong dan ngajar itu lemah lembut bagi orang-orang sederhana seperti mereka berdua, tapi sukak garang kalau ketemu orang-orang yang nggleleng, yang tidak cocok antara yang diomongkan dengan yang dilakukan. gurunya jiaan ndak sukak blas sama orang begituan.

tentu, ada yang tersinggung, marah, selain banyak pula yang terhibur dan dibuat bersemangat serta bergairah. lha yaitu!

yang terakhir ini adalah golongan orang-orang sederhana dan rendah, yang berabad-abad lamanya berada di lapisan bawah, hidup mereka susah dan karenanya mereka selalu memelihara harapan akan kelepasan dan penyelamatan.

tapi mereka berdua pulang ke desa ini karena barusan melihat sendiri, bagaimana tokoh idola mereka ini mati. digantung di antara langit dan bumi, yang katanya guru-guru mereka terdahulu, orang yang mati seperti tadi itu adalah jenis kematian yang hina. nista.

tapi gurunya tidak bersalah! okelah dia rendah karena cumak tukang kayu, tapi ia tidak bersalah.

dia cumak kurban konspirasi dari orang-orang yang gak mau perubahan saja!

gurunya memang pernah ngamuk di halaman tempat ibadah, tapi yg dilakukannya itu bener. masak tempat untuk memuliakan tuhan diubah jadi kayak pasar dan sarang penyamun? dan di tempat ibadah itulah justru pemimpin-pemimpin agama menjalani hidup yang tidak cocok dengan yang diajarkannya.

baiklah.

gurunya telah mati.

sudah selesai.

malah, kata orang-orang sedesa mereka yang sama-sama ke ibukota untuk melihat gurunya diadili, mayat gurunya hilang lagi.

hadeuh caah…. udah mati, mayatnya hilang lagi!

habislah… tak bersisa apa-apa.

[beruntunglah kalian yang masih bisa mendatangi kubur orang-orang yang kalian hormati. bisa nyekar, nyadran dan mengenang kebaikannya ketika hidup.mereka berdua lebih mendalam dukanya dari kita semua.]

asudahlah…. sing wis ya wis..”

“kita sudah kenyang dengan kekecewaan seperti ini. bahkan kita ini adalah golongan orang-orang yang tumbuh dalam harapan tapi tidak juga kunjung tergenapi. tapi toh kita tetap kuat, dengan rahmat tuhan bisa menjalani hidup sehari-hari…”

dha ngobrol apa e caah..?

ada seseorang yang ikut berjalan pulang ke desa mereka nimbrung dalam obrolan mereka berdua.

lha kowe ki rareti pa, ana gegeran neng ibukota? ana wong saka desane dhewe dipateni, mbalah jenasahe mau jare ilang dicolong wong

kuwi mau guruku, trus aku karo sakanca mbalah dituduh ndhelikke jenasahe guruku mau

lha apa kowe ki wong pendatang? cina? kapir?

woo…dhasar wong desa. cubluk. cupet nalarmu caah…

lalu, teman seperjalanan yang diduganya non-pri tadi bercerita. caranya bercerita begitu memikat, menohok, persis kayak yang dilakukan gurunya dulu…

lalu ketika perjalanan mereka sudah memasuki malam, mereka pun ingin menahan teman baru mereka tadi untuk bermalam bersamaan. siapa tahu bisa bercerita lebh banyak lagi, yang membuat mereka terbelalak dan penuh harapan lagi…

kene, nginep ndhene wae karo sedulur-sedulur kene

wislah… aja neruske lakumu, wis peteng. mangan kene sik sisan…

maka ia pun tertahan dan setuju untuk makan malam bersama dengan mereka.

lihatlah,

ia memimpin doa.

dua rekan tadi mengamati.

dibagi-bagikannya roti yang di tangannya sambil memberi berkat.

seketika itu pula dua rekan tadi tersentak. bersamaan dengan lenyapnya tamu tadi dari pandangan mata mereka!

yungalah… iki mau sapa cah? gilo, mosok kowe pangling karo carane ngedum-dum roti mau?

aku ora pangling, hambok wujude wis beda, ning aku ora pangling…. ayo gage-gage ngabari kanca-kanca desa…. ”

gusti wungu… tenan…gusti wungu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s