memilih percaya

matius 28:11-20
di rumah keluarga sarjito baptis
potorono
13 april 2017

matius menulis injilnya untuk orang-orang yahudi yang telah mengikut kristus.
berbeda dari kitab injil yang lain, kitab injil matius tidak perlu menerjemahkan istilah-istilah adat yahudi kepada pembacanya, sebab dianggap para pembacanya yang orang yahudi itu sudah pada tahu maksudnya.

meski menulis untuk orang yahudi, tapi dalam perikop kita ini tanpa ragu matius menulis mengenai dusta yang dilakukan oleh para pemimpin agamanya. mereka membohongi orang banyak dengan menyebarkan berita seolah-olah mayat yesus dicuri murid-muridnya.

kebohongan ini justru menyiratkan berita sebenarnya bahwa memang mayat yesus tidak ada di makamnya lagi. entah dicuri entah bangkit pokoknya bener-bener kosong.

menghadapi fakta kubur kosong itu para murid lebih mempercayai kesaksian para perempuan yang mengaku melihat yesus yang bangkit. sedangkan para pemimpin agama di yerusalem lebih memilih menyangkal adanya kebangkitan: mayat yesus dicuri para muridnya adalah alasan yang lebih masuk akal mereka.

bu sum membuka kamus alkitab dan menemukan keterangan mengenai siapa para pemimpin agama itu, tidak lain adalah orang-orang SADUKI. mereka ini taat pada taurat dan tidak mempercayai ajaran dan adat lain yang di luar itu. mereka pun tidak percaya akan adanya malaikat, dan tidak percaya kebangkitan.

bisa dimaklumi bila mereka pun lebih mempercayai kosongnya kubur yesus sebagai dicuri tadi.

ketika matius menulis injilnya ini, berita dua versi tadi sudah ada. sudah dia dengar, namun demikian ia nekad menuliskan sikapnya untuk mempercayai berita perempuan, bahwa yesus bangkit dari antara orang mati. ia menulis injilnya sebagai kesaksian imannya, bahwa yesus bangkit, sesuai yang dinubuatkan para nabi.

tidak heran bila di perikop berikutnya, ia pun mengisahkan tentang perintah yesus untuk para murid agar mereka semua bersaksi, sama seperti yang matius lakukan: mempersaksikan iman kebangkitan kristus.

di akhir perikop, matius menuliskan janji bahwa kristus “akan menyertai kita sampai akhir jaman”

kisah tentang dusta pemimpin agama ini merupakan kisah yang hanya matius yang menuliskannya. sebagai sesama yahudi, ia dengan berani melawan pemimin agamnya sendiri dengan justru berpihak pada berita kaum lemah [perempuan] yang dalam masyarakat mereka tidak bisa dipercaya beritanya.

jadi,

perikop ini mengajarkan kepada kita ttg keberanian untuk bersaksi tentang kebenaran.

semoga kita pun demikian.

amin!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s