pengendalian diri

christ-in-gethsemane-p

lukas 22:39-44
lukas 23:44-48
di rumah keluarga sutiyo, gilang

persekutuan doa tadi sore mengulas sikap yesus ketika menghadapi penderitaan, dan ketika ia menjalani penderitaan jelang wafatnya di bukit golgotha.

perikop pertama adalah suasana batin dan suasana sekitar yesus, ketika ia sedang merefleksikan risiko panggilannya. ia amat sedih hingga peluhnya menyerupai butir-butir darah.
peristiwanya berlangsung di taman gethemane. taman yang sering digunakannya untuk menyepi dan berdoa di malam hari.
dalam penderitaannya menjelang puncak pelayanannya itu, ia meneguhkan kembali konsistensinya untuk menempuh penderitaan sebagai konsekuensi dari panggilannya.
ada dikisahkan bahwa tuhan mengutus malaikat untuk menguatkan yesus. tapi itu tidak menghapus beban penderitaan yang bakal ditanggungnya. yesus harus menderita. cawan harus diminum. doa yesus pada bapa TIDAK DIKABULKAN. titik.

perikop kedua berlangsung di puncak bukit tengkorak, atau bukit golgotha.
yesus sudah mengalami tuntas penderitaannya. ia tinggal menantikan nyawanya putus. di momen kritis itu ia menyerahkan nyawanya pada sang bapa.
dan alam pun ikut berduka: langit gelap sejak tengah hari. ada gempa. tirai bait allah sobek dari atas ke bawah.
yesus menuntaskan semua tugas panggilannya. ia wafat di kayu salib. dan bagi orang yang mengenal dia sejak awalnya berkomentar: “sungguh orang ini orang benar

di kedua situasi -gethsemane dan golgotha- yesus menjalankan tugas perutusannya tanpa cela. ia melihat ke dalam [introspeksi] dan tahu akan konsekuensi panggilannya adalah sengsara. secara konsisten, ia mampu mengendalikan diri, taat atau patuh pada kehendak bapanya hingga tuntas.

sore ini kita mendapatkan bahan doa, bahwa kita perlu juga tahu atau mengenal panggilan khusus kita. baik sebagai pribadi, keluarga maupun persekutuan.
bagaimana sikap yesus yang mampu mengendalikan diri dan konsisten pada panggilan itu bisa diajarkan kepada keluarga, persekutuan dan masyarakat kita?

kita perlu memohon karunia agar sebagai orang tua mampu menjadi teladan bagi anak-anak kita. keteladanan lebih kuat katimbang kata-kata.
dan bagaimana mungkin anak-anak tahu sikap luhur pengendalian diri tadi bila tidak pernah dicontohkan oleh orangtuanya?
dmikian pula berlaku pada lingkup persekutuan dan masyarakat.

apa tujuan, misi, yang hendak ditempuh oleh persekutuan wilayah 5 wetah ringroad ini? merawat persaudaraan, mengeratkan, mempertebal iman… apakah juga terpanggil untuk menambah anggota? meluaskan jelajah pelayanan? memperhatikan remaja dan pemuda?

itu semua perlu didoakan. agar kita tahu misi kehadiran kita, dan kita tahu bagaimana mengerjakan misi tadi secara tuntuas sampai tuhan memanggil kita.

meski tuhan tidak menghapus beban kita, tapi ia akan mengutus malaikat untuk menguatkan kita.
amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s